Cara mengelola risiko investasi saham

Cara mengelola risiko investasi saham

Apa itu risiko?

Risiko adalah sebuah konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Risiko berlawanan dengan ekspektasi dari sebuah rencana yang mengakibatkan kerugian atau bahaya.

Risiko memiliki sifat yang tidak terduga dan tidak bisa diprediksi maka risiko mengandung ketidakpastian di mana jika terjadi suatu keadaan yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian

Dalam investasi risiko didefinisikan sebagai peluang keuntungan yang diharapkan akan berbeda dengan keuntungan secara real atau nyata termasuk berkurangnya modal bahkan sampai hilangnya seluruh modal investasi.

Risiko dalam investasi saham

1. Kehilangan seluruh Modal/dana Investasi

Hal perlu yang dipahami dan diterima oleh investor terutama pemula adalah jumlah nominal yang di relakan untuk kehilangan seluruh modal tersebut atau -100%. Tentu nominal tersebut berbeda – beda setiap individu berdasarkan toleransi risiko masing – masing.

Cara meminimalisir hal tersebut adalah janganlah menaruh seluruh dana investasi anda pada investasi saham. Anda dapat menaruh sekitar 5% sampai 10% dari total kekayaan yang anda miliki.

2. Volatilitas atau fluktuatif

Bagi sebagian investor volatilitas atau naik turunnya harga saham tidak dianggap sebagai risiko. Jika volatilitas itu menghasilkan keuntungan yang positif contohnya, namun jika volatilitas berakhir pada profit yang negatif atau minus akan lain cerita. Semakin stabil sebuah investasi maka akan semakin baik dan sebaliknya misalkan Reksa dana pasar uang dibandingkan reksadana saham pada masa pandemi covid-19 tentu saja sesuai data reksadana saham lebih berisiko dibanding reksadana pasar uang.

Cara meminimalisir volatilitas adalah dengan cara menggabung jenis investasi dengan investasi yang memiliki kestabilan yang tinggi, bahkan fund manager kelas dunia seperti Ray Dalio juga melakukan hal tersebut dengan cara menggabungkan fixed income seperti SUN, SBN atau obligasi jenis lainnya dalam portofolionya.

Hal tersebut ditujukan agar jika market mengalami crash yang cukup signifikan maka jenis aset yang mempunyai kestabilan tinggi dapat membendung penurunan tersebut.

Volatilitas dalam sebuah pergerakan harga saham diwakilkan oleh standard deviasi dan beta saham. Standar deviasi adalah alat ukur indikator yang memberikan ukuran volatilitas harga aset dibandingkan dengan rata-rata historisnya dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan beta saham adalah nilai yang terkandung dalam suatu saham yang menunjukkan sensivitas atau kepekaan suatu saham terhadap pergerakan pasar.

3. Tidak membagikan dividen

Dividen juga termasuk keuntungan dalam sebuah investasi saham, maka perusahaan yang tidak membagi dividen merupakan hal yang kurang baik untuk investor long term. Tidak membagikan dividen disebabkan karena perusahaan tidak mendapatkan laba atau perusahaan menggunakan alokasi laba tersebut untuk melakukan ekspansi dan belanja modal.

Cara untuk meminimalisir hal tersebut dapat dibeli perusahan dengan fase yang masih dapat bertumbuh walau menduduki posisi market leader. Pada perusahaan seperti Bank BRI, Bank BCA, Bank Mandiri, Telkom masih membagikan dividen dan capital gain setiap tahunnya sampai saat ini.

4. Suspensi saham

Suspensi saham adalah Penghentian aktivitas perdagangan sementara dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Jadi Jika suatu saham yang di suspend oleh Bursa Efek Indonesia maka anda tidak dapat membeli atau menjual saham tersebut hingga status Suspend tersebut dicabut (Unsuspend). Tentu akan merepotkan jika anda tidak bisa melakukan transaksi jual dan beli, terlebih lagi suspensi dikarenakan kasus hukum atau pelanggaran perusahaan.

Untuk meminimalisir hal tersebut maka belilah saham dengan GCG dan track record manajemen yang baik. Pastikan juga pergerakan saham tidak naik dan turun secara drastis berhari – hari seperti saham yang masuk dalam indeks LQ-45 atau IDX30 yang memiliki liquiditas tinggi.

5.  Delisting

Delisting adalah penghapusan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membuat saham tidak bisa ditransaksikan di BEI alias keluar dari BEI. Delisting menjadi berbahaya terkait dengan kondisi perusahaan yang buruk seperti dua tahun berturut-turut tidak menyampaikan laporan keuangan, keberlangsungan bisnis perusahaan dipertanyakan dan tidak ada penjelasan dll.

Maka untuk meminimalisir hal tersebut membeli saham perusahaan yang layak akan dapat membantu. Perusahaan yang memiliki penjualan, laba dan aset yang tumbuh diharapkan tidak memiliki masalah persoalan keuangan sehingga rugi yang akhirnya rugi tersebut dapat mengikis modal dan perusahaan dapat mengalami kebangkrutan sehingga harus delisting.

Jadilah investor pasar saham Indonesia.

Untuk pembukaan akun saham (rekening sekuritas) dapat menghubungi kami disini atau disini

Gratis tanpa dipungut biaya!

 

Dipost Oleh Super Administrator

Follow us on IG : https://www.instagram.com/bigbrothersinvestment/ and Twitter : https://twitter.com/BigBroInvest

Post Terkait

Tinggalkan Komentar