Cara menghitung harga wajar/valuasi saham menggunakan price to book value/PBV

Cara menghitung harga wajar/valuasi saham menggunakan price to book value/PBV

Book Value atau Nilai Buku

Price to Book Value adalah Rasio Harga Saham terhadap Nilai Buku, nilai buku itu sendiri adalah nilai atau valuasi suatu perusahaan apabila diharuskan untuk dilikuidasi (dijual karena bangkrut). Semisal anda mempunyai sebuah usaha PT. Bigbro dengan modal awal 1 Milyar dengan jumlah saham yang dimiliki owner atau pemilik jumlahnya ada 500.000 lembar maka,

Book Value = Modal/jumlah saham

Nilai Buku  = 1 Milyar / 500.000 lembar = 2.000

Angka 2.000 tersebut adalah angka yang mewakili penilaian atau penghargaan terhadap perusahaan anda.  Jika perusahaan mengalami kebangkrutan maka angka ini yang akan digunakan sebagai acuan untuk dilakukan penjualan seluruh aset (likuidasi). Artinya disini penulis memandang bahwa angka ini merupakan dasar atau basis dari sebuah nilai perusahaan. Untuk dapat menghitung lebih detail tentang BV dan PBV anda dapat membaca artikel sebelumnya disini.

 

Nilai buku(BV) terhadap Harga saham

Lalu pertanyaan lain muncul “Apakah Nilai buku(BV) sudah mewakili valuasi perusahaan ?” Tidak, Nilai buku(BV) mewakili dasar atau basis nilai perusahaan akan tetapi belum tentu mewakili “penilaian market/persepsi pasar”. Inilah mengapa valuasi menjadi ilmu yang unik, karena valuasi dipenuhi oleh persepsi atau opini – opini para marketers dengan estimasi, proyeksi dan metode sedemikian rupa yang tercapur aduk bersama – sama menjadi persepsi pasar. Untuk lebih memahami bagaimana konsep dasar tentang valuasi anda dapat membacanya disini.

 

“Kenapa Nilai buku(BV) belum tentu mewakili valuasi perusahaan ?” hal itu dapat disebabkan karena seiring perjalanan pertumbuhan perusahaan, para investor memiliki keyakinan masing – masing bahwa perusahaan akan masih bisa tumbuh di masa yang akan datang. Karena persepsi ini maka investor melakukan pembelian, yang mengakibatkan harga dari saham perusahaan mengalami kenaikan.

Alasan lain coba anda perhatikan bahwa PBV adalah metode sangat sederhana sebagai penilai yang hanya melibatkan angka dalam variabelnya. Ibarat seorang pasangan maka anda hanya akan menilai kekayaannya saja, apakah hal ini sudah cukup?

Lagi – lagi itu kembali ke pemikiran investor sebagai penilai yang akan berbeda – beda setiap individu. Ada yang menilai kekayaannya paling penting, ada yang harus mempertimbangkan pendapatan, gaji, efisiensi, hutang dll. “Apakah pertimbangan tersebut sudah cukup?”

Bagaimana jika pasangan anda orang yang sangat terpandang dan mempunyai networking yang high class, apakah hal itu juga sebuah pertimbangan?”  Jika iya, maka aspek kualitatif juga harus dipertimbangkan dalam penilian perusahaan. Sebagai contoh brand, tentu saja brand Indomie dengan Mie sedap berbeda dan mempunyai penilaian sendiri yang mungkin saja dapat dinilai menjadi angka yang baku. Atau hal lain semisal kualitas leadership dari yang sebelumnya perusahaan memiliki banyak hutang kemudian dibuat bisa mencetak laba dari kualitas leadership seorang CEO. Hal lain lagi misalnya management yang sangat taat hukum dan legalitas yang selalu mempertimbangkan risiko sebagai perhatian utama dll. Maka dari pertimbangan – pertimbangan inilah persepsi investor itu berbeda dan dapat mempengaruhi aksi pembelian dan penjualan terhadap harga saham itu.

Maka, jika kita kembali pada case PT.Bigbro dari penilaian yang harganya 2.000 dengan pertimbangan banyak hal yang sudah dijelaskan dan akhirnya membuat investor yakin terhadap masa depan perusahaan dan akhirya membuat dorongan beli, sehingga harga saham naik. Karena kita membicarakan harga maka kita harus menggunakan “Price” to book value atau disebut juga PBV.

PBV = Harga saham / Nilai Buku (Book Value)

Maka case awal mula:

2.000 VS 2.000 = PBV 1x

Lalu harga saham naik :

3.000 VS 2.000 = PBV 1,5x

Dari perhitungan diatas maka dapat disimpulkan funsi PBV hanyalah sebagai pembanding antara harga saham dengan nilai buku yang semulanya dari 1 kali menjadi 1,5 kali atau naik 0,5 kali dari harga dasarnya karena pertimbangan – pertimbangan pasar yang sudah penulis jelaskan diatas.

 

PBV Sektor/Industri

Lalu PBV berapa yang dianggap paling ideal untuk mewakili harga wajar saham ? Tidak ada aturan yang pas untuk hal ini, beberapa berpendapat 1,5x atau 2x atau 3x atau 4x, “why?, atas dasar apa menggunakan angka – angka tersebut ?”. Untuk menjawab hal ini biasanya digunakan pembanding perusahaan sejenis dalam satu sektor yang sama. Sektor yang sama bertujuan diharapkan model bisnis yang dijalankan sama, maka dari kesamaan ini diharapkan dapat mewakili perusahaan yang akan kita hitung valuasinya.

Untuk menghitung PBV sektoral maka hal yang kita perlukan adalah mengumpulkan Emiten di sektor yang sama dan mengambil beberapa sampling perusahan yang sehat atau leading/memimpin dalam industrinya. Jika terdapat 17 perusahaan dalam sektor sejenis namun hanya 6 perusahaan yang memiliki perform dan keuangan yang baik, maka kita hanya akan mengambil 6 perusahaan ini, kenapa? karena perusahan yang keuangannya kurang baik hanya akan membuat data menjadi kurang akurat, terlebih lagi “kenapa kita membandingkan dengan perusahaan yang berkinerja buruk, jika terdapat perusahaan yang sehat ?”, dari hal ini maka kita dapat menggunakan common sense kita sebagai valuator.

Dari case ini kita menyimpulkan bahwa parameter PBV selalu tergantung terhadap faktor – faktor tertentu salah satunya dari rata – rata  PBV industri.

 

PBV Undervalue

Kembali pada awal kasus PT. Bigbro, dengan PBV sebagi berikut :

2.000 VS 2.000 = PBV 1x

Jika ternyata harga turun menjadi

1700 VS 2.000 = PBV 0,85x

Apakah saham tersebut dengan PBV 0,85x mengalami undervalue sehingga layak untuk dilakukan pembelian?, belum tentu.

Coba perhatikan saham – saham yang berfundamental jelek dengan harga dibawah 50 – 100 atau saham tidur lama bertahun – tahun dengan harga 50, maka akan ditemui banyak sekali PBV dibawah 1x. Hal ini menjadi sangat penting yang selalu mejadi concern penulis terhadap investor yang hanya mempertimbangkan PBV sebagai acuan menilai mahal dan murahnya suatu harga saham. Tentu saja hal tersebut dapat menjadi hal yang menyesatkan atau valuation trap. Investor harus jeli membedakan saham layak beli dengan saham harga murah karena termsnya berbeda.

Boleh saja mencari PBV dibawah 1x dengan syarat anda harus menjamin bahwa laba dan pendapatan perusahaan dapat tumbuh dimasa yang akan datang. Jika laba dan pendapatan naik maka terdapatkemungkinan bahwa harga saham akan mengikuti dan terhindar dari risiko kebangkrutan, karena risiko rata – rata saham PBV dibawah 1x sedang mengalami kerugian atau underperform.

Dipost Oleh Super Administrator

Follow us on IG : https://www.instagram.com/bigbrothersinvestment/ and Twitter : https://twitter.com/BigBroInvest

Post Terkait

Tinggalkan Komentar