Jenis - Jenis metode dan cara menghitung valuasi startup

Jenis - Jenis metode dan cara menghitung valuasi startup

Menurut teori valuasi adalah nilai sekarang (present value) dari arus kas imbal hasil yang di harapkan (expected cash flows) (Joseph, 2009). Untuk lebih mengetahui konsep tentang valuasi sudah kami bahas di artikel sebelumnya yang dapat anda baca disini.

Valuasi bertujuan untuk mengukur nilai suatu investasi/bisnis, dengan pengukuran itu diharapkan dapat mengetahui nilai yang terkandung dalam suatu bisnis sehingga kita dapat melakukan tindakan atau rencana yang diperlukan atas nilai tersebut.

Valuasi suatu bisnis antara bisnis konvensional dengan bisnis start-up memiliki perhitungan yang berbeda. Jika pada bisnis konvensional kita dapat memperhatikan laba yang merupakan hal penting dan paling dipertimbangkan pada investor pada umumnya. Namun pada start-up laba pada fase – fase awal suatu perusahaan beroperasi tidak akan didapatkan.

Sebagai contoh pada perusahaan konvensional valuasi dapat mempertimbangkan:

  1. Kapitalisasi market
  2. Proyeksi laba atau dividen
  3. Harga Saham
  4. Utang
  5. Cash/ portofolio investasi yang dimiliki.

Namun untuk startup valuasi pertimbangan – pertimbangannya berbeda, dengan contoh sbb:

  1. Jumlah dan nominal transaksi.
  2. Jumlah pengguna platform.
  3. Teknologi produk.
  4. Kualitas tim (visi kedepan)

Memahami valuasi Pre-Money dan Post-Money

Dalam perhitungan valuasi startup ada dua istilah penting yang harus dipahami, yaitu valuasi Pre-Money dan Post-Money. Antara lain sebagai berikut:

1. Pre-Money adalah harga dari sebuah startup sebelum mendapatkan investasi.

2. Post-Money adalah harga startup setelah mendapatkan investasi.

Kondisi diatas akan menyebabkan perubahan setelah perusahaan mengalami pendanaan baru. Pendanaan tersebut menggeser pemegang saham lama dengan presentasi pemegang saham baru atau disebut juga dilusi saham.

Contoh :

Anda sebagai founder mempunyai startup dengan valuasi awal dengan nilai 5 Miliar dan anda masih memiliki 100% kepemilikan saham, lalu mendapatkan pendanaan awal (seed funding) dengan 2 Milliar, maka :

Valuasi Post-Money = Valuasi pre-money + Nominal Investasi Tahap Awal

                                    = 5 Miliar + 2 Miliar

                                    = 7 miliar

Presentase valuasi Post-Money Founder = (5M / 7M) x 100 = 71,4%

Presentase valuasi Post-Money Investor = (2M / 7M) x 100 = 28,6%

                                                       

Jenis - jenis fase startup

1. Fase awal startup/early stage

Founder yang mempunyai visi mengispirasi dan ditambah dengan kualitas team yang mempunyai skill, pendidikan dan pengalaman yang baik, serta track yang sejalan dengan rencana akan dapat mempengaruhi nilai valuasi lebih baik. Perusahaan startup akan memberikan saham sekitar 5 -15 persen kepada investor. Namun terdapat juga startup yang menginginkan surat hutang sebagai pendanaan seperti obligasi konvertibel (convertible note) yaitu perjanjian hutang yang bisa dikonversi menjadi kepemilikan saham dalam jangka waktu tertentu (biasanya ketika startup mendapat pendanaan lanjutan).

2. Fase berkembang startup/growth stage

Fase ini biasanya startup sudah mempunyai pendapatan, pengguna yang cukup banyak dan memiliki saham Seri A, Seri B.

3. FaseExit Startup

Fase ini founder dan investor dapat melakukan IPO di Bursa efek/saham atau melakukan aksi korporasi lain seperti merger dan akuisisi. Jika diakusisi founder pun bisa menerima saham dari perusahaan yang mengakuisisi dan tentunya memiliki nilai dan dapat dijual. Apabila ada perusahaan yang ingin melakukan akuisisi karena tim kamu (acqui-hire) dan akan menutup layanan tersebut setelah akuisisi, mereka biasanya akan membayar sesuai dengan jumlah tim yang akan mereka pertahankan.

 

Jenis – jenis metode valuasi startup fase awal :

Karena pada awal fase biasanya starup jarang yang memiliki revenue atau laba namun investor tetap ada yang mau mendanai karena proyeksi masa depan dari startup tersebut. Analisa dapat dilakukan dengan pendekatan kualitatif terlebih dahulu lalu dengan cara kuantitatif seperti mempertimbangkan faktor – faktor positif dan negatif. Faktor positif meliputi ; kualitas dan background team, reputasi, prototipe, penawaran dan permintaan, saluran distribusi, booming/trending ide-ide bagus, produk atau jasa yang unik visi dan misi yang menginspirasi dan layanan sudah memiliki reputasi yang baik. Faktor negatif meliputi; masuk dalam sektor yang buruk, persaingan, management team tidak berkualitas.

 

1. Metode valuasi Gross Merchandise Value (GMV)

Jika perusahaan dengan kondisi merugi, tentu sulit mengukur valuasi perusahaan berdasarkan pendapatan atau laba/rugi biasanya investor akan menilai menggunakan Gross Merchandise Value (GMV) atau nilai total transaksi.

Sebagai contoh, pada startup e-commerce, GMV menandakan jumlah transaksi melalui sistem pembayaran dan startup transportasi online GMV menandakan total nilai tumpangan pada startup tersebut. Lalu setelah GMV hal lain adalah mencari faktor pengkali atau multiple. Nilai pengkali disini didapatkan dan dipengaruhi oleh faktor industri dan multiple.

 

Contoh ilustrasi perusahaan diatas sama – sama dengan estimasi GMV dan profit/ loss yang sama. Lalu kita ilustrasikan saja dengan sektor dan industri yang sama dengan pengkali yang sama yaitu 10x.

Untuk mencari pengkali anda dapat menggunakan Price Earning Ratio disektor terkait dengan cara merata – ratakan PER setiap perusahaan.

7M  x 7 = 70M

Jika seandainya tingkat suku bunga 10% maka jika dipresent valuekan:

Valuasi = 70M /(1+10%)⁴ = 47,9M, berarti nilai valuasi sekarang 1,4xnya valuasi 4 tahun lagi. Hasil tersebut dapat dibandingkan dengan startup valuasi lain.

 

 2. Metode valuasi komparasi startup berdasarkan jumlah pendapatan

Dari data diatas kita maka kita menggunakan acuan 4x sebagai pengkali

Jika Pendapatan startup yang akan kita hitung = Rp 3 M, maka

Valuasi = Rp 3 M x 4 = Rp 12 M

 

3. Metode valuasi komparasi startup berdasarkan jumlah pengguna

Jika valuasi startup pengguna yang akan kita hitung 500.000

Maka valuasi = 500.000 x 18.750 = Rp 9,3M

 

4. Discounted Cash Flow start up

Metode ini menggunakan arus kas keluar masuk yang didiskontokan selama kurun waktu tertentu, metode ini biasanya digunakan jika startup mulai mengalami keuntungan:

 

DCF                     = Keuntungan/ (1 + Discount Rate)^Tahun Berjalan

DCF tahun 2  = Rp 6,05 M/ (1 + 10%)^2

                               = Rp 6,05M / 1,21

                               = Rp 5M

 

Rumus dan Contoh Menghitung Terminal Value

Terminal Value = DCF Tahun Terahir x (1+Pertumbuhan akhir)/10% - 3%

                                  = Rp4,35 M x (1 + 3%)/10% - 3%

                                  = Rp 4,48 M / 0,07

                                  = 64 M

DCF Terminal Value  =  Rp 64 M / (1 + 10%)^5

                                  = Rp 64 M / 1,61

                                 = Rp 39,7 M

 

5. Metode Berkus

Metode ini cocok digunakan untuk startup yang sama sekali belum menerima pendapatan. Metode ini dapat digunakan menjadi metode yang digabungkan atau dipertimbangkan dengan metode lain. Metode ini mempertimbangkan penilaian pada variabel – variabel seperti ide, teknologi, kualitas tim, kerja sama strategis dan penjualan.

Metode ini ditemukan oleh Dave Berkus dan  menetapkan nilai maksimal dari setiap variabel di atas tidak boleh melebihi angka US$500.000 (sekitar Rp 7 miliar).

 

6. Meode Risk Factor Summation (RFS)

Metode ini dapat digunakan juga sebagai analisa pelengkap yang mempertimbangkan hal yang sangat penting untuk startup yaitu risiko. Risiko dapat mempertimbangkan variabel – variabel berikut ini :

 

 

7. Metode Book Value

Metode ini digunakan untuk perusahaan yang sudah mempunyai pendapatan dan laba serta modal yang cukup karena metode ini akan menghitung jumlah modal atau ekuitas dibagi jumlah saham. Rumusnya adalah

Book Value = Modal (equitas) / Jumlah saham beredar

 

Setiap metode terdapat kelebihan dan kekurangan masing – masing, keberhasilan perhitungan valuasi juga dipengaruhi oleh banyak hal terutama dari asumsi – asumsi yang dipakai. Hasil valuasipun akan berbeda antara valuator satu dengan yang lainnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah praktik – praktik markup valuasi, sehingga startup memiliki atau terlihat mempunyai valuasi yang besar.

Hal itu bisa saja dilakukan dengan cara memalsukan jumlah transaksi atau jumlah pengguna aplikasi, maka untuk menghindari hal ini valuator juga harus meminta data yang dibreakdown dengan waktu yang  lebih singkat seperti penambahan pengguna atau transaksi mingguan atau bulanan.

Dipost Oleh Super Administrator

Follow us on IG : https://www.instagram.com/bigbrothersinvestment/ and Twitter : https://twitter.com/BigBroInvest

Post Terkait

Tinggalkan Komentar