Dow Theory

Dow Theory

Difinisi

Dow Theory adalah sebuah konsep analisa yang berasal dari serangkaian bagian editorial yang ditulis oleh Charles Dow, saat itu dia adalah editor Wall Street Journal. Setelah kematian Charles Dow, William Hamilton melanjutkan pekerjaannya, dan pada tahun 1932, tulisan kedua orang tersebut, secara kolektif diterbitkan sebagai “Dow Theory” oleh Robert Rhea.

Dow Theory adalah analisa yang menjelaskan bagaimana pelaku pasar dapat memahami kondisi market hanya dengan melihat pergerakan harga. Dow Theory merupakan teori pertama yang menjelaskan bahwa pasar bergerak dalam tren.

Sejarah singkat Dow Theory

Dow Theory dikembangkan oleh Charles H. Dow , bersama Edward Jones dan Charles Bergstresser, Pendiri dari Dow Jones & Company, Inc. dan yang membentuk Dow Jones Industrial Average pada tahun 1896.

Charles Dow meninggal pada tahun 1902, dan karena kematiannya, ia tidak pernah menerbitkan teori lengkapnya itu di pasar, tetapi beberapa pengikut dan rekanan telah menerbitkan karya yang telah diperluas pada editorial. Beberapa kontribusi terpenting bagi Dow Theory adalah sebagai berikut:

  • William P. Hamilton "The Stock Market Barometer" (1922)
  • "Dow Theory" Robert Rhea (1932)
  • George Schaefer " How I Helped More Than 10,000 Investors To Profit In Stocks" (1960)
  • Richard Russell "The Dow Theory Today" (1961)

Teori ini telah mengalami perkembangan dari saat pertama di tulis oleh Charles H Dow, sudah lebih dari 100 tahun.

Beberapa kontribusi yang paling berpengaruh terhadap perkembangan Dow theory yaitu kontribusi oleh William Hamilton pada 1920-an, Robert Rhea pada 1930-an, dan E. George Shaefer dan Richard Russell pada 1960-an.

Bagaimana Cara Dow Theory Digunakan

Terdapat 6 konsep dalam Dow Theory yang dapat diterapkan dalam analisa saham:

1. The Market Discounts Everything

Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap informasi yang tersedia di pasar sudah tercermin dalam harga saham dan indeks. Ini mencakup semua data seperti pengumuman pendapatan oleh perusahaan, kenaikan (atau penurunan) inflasi atau bahkan sentiment – sentiment pasar yang disebabkan oleh rumor.

Jadi menurut konsep Dow theory yang pertama ini, lebih baik menganalisis pergerakan harga daripada mempelajari laporan laba atau neraca perusahaan.

2. Ada Tiga Jenis Tren Pasar Utama

Dow Theory adalah yang pertama mengemukakan bahwa pasar bergerak dalam tren. Tren tersebut yaitu:

Tren utama (Primary Trend) adalah tren utama untuk pasar. Ini menunjukkan bagaimana pasar bergerak dalam jangka panjang. Tren utama bisa berlangsung lama bahkan bertahun-tahun.

Tren sekunder (Secondary trend) dianggap sebagai koreksi terhadap tren utama. Ini seperti gerakan yang berlawanan dengan tren utama. Misalnya, jika tren utama naik (bullish), maka tren sekunder adalah turun. Tren ini bisa berlangsung antara beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung time frame dan kondisi tren utamanya.

Tren kecil (Minor trend) adalah fluktuasi pergerakan pasar. Tren minor adalah pergerakan yang ada didalam tren utama dan tren sekunder. Lihat pada gambar untuk lebih mudah memahami.

Tren utama berwarna merah sebagai tren naik (Bullish), tren sekunder berwarna biru tua sebagai koreksi dari tren utama (Bearish), dan minor tren berwarna hijau adalah pergerakan di dalam tren utama dan sekunder (Riak-riak).

3. Tren Memiliki Tiga Fase

Dow Theory mengatakan bahwa ada tiga fase untuk setiap tren utama yaitu: accumulation phase, public participation phase and panic phase.

  • Awal dari tren utama naik (atau turun) di pasar bull (atau bear) dikenal sebagai fase akumulasi,
  • Public Participation Phase, ada fase partisipasi publik, lebih banyak investor masuk ke pasar seiring membaiknya kondisi saham dan sentimen positif semakin banyak.
  • Panic phase, Fase panik ditandai dengan pembelian berlebihan oleh investor. Kondisi pada tahap ini menghasilkan spekulasi yang besar. Pada tahap ini, sebaiknya anda dapat merealisasikan profit, bukan ikut ralut dalam kenaikan pasar, tau bahkan baru membeli pada fase ini.

 4. Indeks Harus Saling Mengkonfirmasi

Tren di pasar tidak dapat diverifikasi oleh satu indeks. Semua indeks harus mencerminkan hal yang sama. Misalnya, dalam kasus tren bullish, LQ45, JII, IDX30 dan indeks lainnya harus bergerak ke arah atas. Demikian pula, untuk tren bearish, semua indeks harus bergerak ke arah bawah.

5. Tren Dikonfirmasi Oleh Volume

Sebuah tren juga harus didukung oleh volume. Misalnya, dalam tren naik: volume naik saat harga naik dan volume turun saat koreksi. Jika dalam contoh ini volume meningkat selama koreksi, itu bisa menjadi tanda bahwa tren sedang berbalik arah, karena semakin banyak pelaku pasar yang menjual saham.

6. Tren Bertahan Sampai Terjadi Pembalikan Arah

Pada konsep ke enam ini maksudnya adalah, harga akan tetap pada tren sampai ada signal pembalikan arah. Seperti dalam teori fisika yaitu “the law of inertia” jadi harga akan tetep dalam tren sampai ada signal jelas pembalikan arah.

Kesimpulan

Meskipun sudah berusia lebih dari seratus tahun, Dow Theory masih relevan di pasar sampai saat ini. oleh karena itu dengan memahami Dow Theory, trader dapat mengambil manfaat dari melihat dan memanfaatkan tren di pasar.

 

Dipost Oleh Super Administrator

Follow us on IG : https://www.instagram.com/bigbrothersinvestment/ and Twitter : https://twitter.com/BigBroInvest

Post Terkait

Tinggalkan Komentar