Perbankan Syariah

Perbankan Syariah

Apa Itu Perbankan Syariah?

Perbankan syariah atau Perbankan Islam (Islamic banking) adalah suatu aktivitas perbankan yang mematuhi syariah (hukum Islam). Prinsip dasar dari perbankan syariah adalah profit & loss sharing dan larangan penggunaan “Riba” untuk nasabah kreditur maupun debitur.

Karakteristik Perbankan Syariah

Karakteristik operasional perbankan syariah adalah berlandaskan prinsip kemitraan dan saling menguntungkan, yaitu memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan baik bagi masyarakat maupun bagi bank.

Sistem ini akan mengutamakan aspek-aspek yang berkaitan dengan keadilan dalam bertransaksi dan investasi yang beretika dengan menggarisbawahi nilai-nilai kebersamaan dan kemitraan dalam produksi, dan dengan menghindari kegiatan spekulatif dalam transaksi keuangan.

Perbedaan Perbankan Syariah dan Konvensional

Salah satu perbedaan utama antara sistem perbankan konvensional dan perbankan syariah adalah bahwa perbankan syariah melarang riba dan spekulasi.

Syariah melarang keras segala bentuk spekulasi atau perjudian, yang disebut sebagai “maisir” . Syariah juga melarang mengambil bunga pinjaman. Selain itu, setiap investasi yang melibatkan barang atau zat yang dilarang dalam Al-Qur'an termasuk alkohol, perjudian, babi juga dilarang.

Cara Bank Syariah Mendapat Keuntungan

Seperti Bank konvensional pada umumnya bentuk usaha bank adalah penghimpunan dana dan penyaluran dana, yang membedakan disini adalah konsep operasional, dalam bank syariah kita mengenal yang namanya akad. Beberapa akad yang digunakan bank syariah diantaranya adalah:

1. Penghimpunan Dana

a. Prinsip Akad Wadi’ah

Wadi’ah secara Bahasa berarti meletakan atau meninggalkan, dapat juga diartikan sebagai titipan, jadi prinsip wadiah dalam bank syariah adalah nasabah menitipkan dana kepada bank syariah, dan tidak terdapat penambahan “riba” didalamnya.

Dalam akad Wadi’ah terdapat 2 jenis yaitu Wadi’ah amanah dan Wadia’ah dhamanah, dalam perbankan menggunakan Wadi’ah Dhamanah yang mana jenis Wadi’ah ini pihak yang dititipi (bank syariah) bertanggung jawab atas keutuhan dana titipan nasabah sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut.

b. Prinsip Akad Mudharabah

Prinsip penghimpunan Dana yang kedua adalah dengan akad Mudharabah, yaitu adalah sebuah bentuk kerja sama, antara pemilik modal dan pengelola modal.

Jadi disini nasabah posisinya sebagai pihak pemilik modal (Shahibul mall) dan Bank syariah sebagai pihak pengelola modal (mudharib), jadi prinsipnya nasabah seperti berinvestasi yang mana nanti akan mendapatkan pembagian hasil dari dana yang dikelola oleh Bank.

2. Penyaluran Dana

a. Prinsip Jual Beli (Ba’i)

Cara Bank syariah mendapatkan keuntungan tanpa menggunakan riba yaitu dengan menggunakan system jual beli. Jadi nasabah membeli barang dari bank syariah dengan system bayar angsuran tanpa bunga. Dengan harga jual barang adalah harga beli bank ditambah marjin keuntungan. Harga jual harus dicantumkan dalam akad, dan harus disepakati oleh kedua belah pihak.

 b. Prinsip Sewa (Ijarah)

Ijaroh dapat diartikan sebagai transaksi sewa atau pemindahan manfaat. Pada dasarnya ijaroh hampir sama dengan  jual beli, yang membedakan keduanya adalah dalam jual beli objeknya adalah barang, sedangkan pada ijaroh adalah jasa/manfaat dari suatu barang.

Contoh transaksi ijaroh dalam bank syariah

Misalnya PT BBBB sedang melakukan proyek, dan membutuhkan alat berat, karena hasil dari proyek didapat setelah selesai maka PT BBBB mengalami kesulitan dalam pengadaan alat berat. Lalu PT BBBB mendatangi bank syariah untuk melakukan transaksi akad ijaroh.

PT BBBB akan menyewa alat berat selama 2 tahun, biaya sewa alat berat adalah 200 juta. Maka PT BBBB akan membayar 9 juta perbulan selama 2 tahun dengan total 216 juta. 16 juta adalah margin keuntungan dari Bank syariah atas sewa alat berat.

3. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)

Ada dua jenis akad utama dalam prinsip bagi hasil yaitu,

a. Pembiayaan Musyarakah

Yaitu sebuah bentuk usaha yang melibatkan 2 pihak atau lebih yang mana semua pihak secara bersama – sama sepakat untuk menggabungkan modal untuk usaha, modal dapat berupa sumber daya yang berwujud maupun tidak berwujud, tidak berwujud dapat berupa hak paten atau goodwill atau lainnya yang dapat dinilai dengan uang.

b. Pembiayaan Mudharabah

Yaitu sebuah bentuk kerja sama dimana pemilik modal menyerahkan dana kepada pengelola dana dengan perjanjian pembagian keuntungan. Dalam mudharabah dana 100% adalah milik pemilik modal dan pengelola hanya mengelola usaha. Yang membedakan musyarokah dan mudharobah adalah pada setoran dana, pada musyarokah kedua belah pihak menyetor dana dan pada mudhorobah hanya satu pihak saja yang menyetorkan dana.

Sejarah Awal Perbankan Syariah

Dubai Islamic Bank (DIB) tercatat dalam sejarah pada tahun 1975 sebagai bank Islam komersial modern pertama di dunia. Sejak itu DIB telah menjadi pemimpin atau pemain utama dalam industry perbankan islam UEA. Dibentuk oleh keputusan yang dikeluarkan dari penguasa Dubai saat itu, HH Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum, DIB menjadi bank pertama di dunia yang menawarkan layanan yang memasukkan prinsip-prinsip Islam ke dalam semua praktiknya.

Sebelum pendirian bank, nasabah tidak memiliki akses ke layanan perbankan syariah. DIB memelopori bentuk perbankan ini, membangun alternatif berdasarkan keadilan dan transparansi. Empat dekade kemudian, DIB masih menjadi standar untuk diikuti oleh bank – bank syariah yang lain. Saat ini, DIB bersaing secara setara dengan bank konvensional terbesar di dunia dengan menyediakan produk dan layanan berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif di bawah payung syariah

Bank Syariah Pertama di Indonesia

Sumber dari laman OJK, Bank Syariah pertama di Indonesia pertama diinisiasi pada tahun 1980 melalui diskusi bertema bank islam sebagai pilar ekonomi islam. Lalu gagasan tersebut diuji coba secara terbatas di bandung (Bait At tamwil Salman ITB) dan di jakarta (Koperasi Ridho gusti).  Kemudian Bank Syariah pertama berdiri pada tangga1 November 1991, atas hasil kerja tim Perbankan MUI yang dibentuk pada Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta 22.25 Agustus 1990.

Bank Muamalat resmi beroperasi pada tanggal 1 mei 1991 dengan modal awal 106 Miliar Rupiah. Pada masa awal keberadaan bank syariah belum begitu menarik perhatian masyarakat dan pelaku ekonomi, sampai pada tahun 1998, pemerintah bersama DPR melakukan penyempurnaan UU No. 7/1992 menjadi UU No. 10 Tahun 1998. Dalam UU tersebut dengan tegas menjelaskan bahwa ada dua sistem dalam perbankan di Indonesia (dual banking system), yaitu sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah.

Dengan adanya penyempurnaan UU tersebut barulah muncul bank – bank syariah lainnya seperti bank Syariah Mandiri, bank IFI, Bank Mega, Bank Niaga, Bank BRI, Bank Bukopin, dan bank – Bank Lainnya. Hingga saat ini Bank syariah di Indonesia masih Berkembang dan terus meningkat, apalagi dengan berdirinya Bank Syariah Indonesia, bank syariah besar yang lahir dari merger atau penggabungan tiga bank syariah BUMN yaitu Bank Mandiri Syariah , Bank BNI Syariah , dan Bank BRI Syariah.

 

Dipost Oleh Super Administrator

Follow us on IG : https://www.instagram.com/bigbrothersinvestment/ and Twitter : https://twitter.com/BigBroInvest

Post Terkait

Tinggalkan Komentar